Pengembangan Sumberdaya Air

 


Indonesia memiliki lebih dari 5.000 sungai dan sekitar 600 di antaranya berpotensi menimbulkan banjir. Daerah rawan banjir yang terpengaruh oleh sungai-sungai induk ini mencapai 1,4 juta hektar. Terjadinya serangkaian banjir dalam kurun waktu yang relatif singkat dan selalu terulang setiap tahunnya menuntut upaya lebih besar untuk mengantisipasinya sehingga kerugian yang ditimbulkannya dapat diminimalkan.

 

Dengan potensi sungai yang sangat besar tersebut, ketersediaan air di daratan Indonesia per-kapita per-tahun sebenarnya cukup besar, yaitu 15.500 m3. Sepintas jumlah tersebut terlihat sangat besar, namun demikian ketersediaan air tersebut tidaklah merata di setiap wilayah, dan keberadaannya secara waktupun sangat dipengaruhi oleh musim.

 

Salah satu penyebab ketersediaan air yang tidak merata adalah curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun, dengan kecenderungan jumlah hari hujan dalam setahun yang semakin berkurang dan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalami degradasi. Hal tersebut akan menyebabkan fluktuasi debit maksimum dan minimum menjadi semakin besar yang jika tidak disikapi dengan baik akan mengakibatkan ketersediaan air akan semakin menurun.

 

Dalam mengelola dan mengkaji fenomena alam yang terjadi saat ini sebagaimana disebutkan di atas, baik segi banjir maupun kekeringan serta bencana lain yang disebabkan oleh air, menjadi suatu keharusan untuk selalu mengkaji hal-hal sebagai berikut:

  1. Sumber-sumber air,
  2. Kuantitas dan kualitas air,
  3. Konservasi Daerah Aliran Sungai,
  4. Pengendalian banjir dan kekeringan,
  5. Infrastruktur keairan,
  6. Pola dan rencana pengelolaan sumber daya air terpadu,
  7. Kebijakan Pemerintah Daerah yang berkaitan dengan Otonomi Daerah,
  8. Pemodelan Manajemen Sumber Daya Air untuk bisa menempatkan air dalam waktu yang tepat, jumlah yang layak dan tempat yang tepat (right time, right amount,
    right place).

Untuk memfasilitasi kondisi-kondisi di atas dan menjaga ketersediaan air yang tepat waktu, tepat jumlah dan tepat lokasi, perlu dilakukan beberapa formulasi yaitu:

  1. Upaya konservasi Sumber Daya Air berupa aplikasi teknologi konservasi dan optimasi potensi air permukaan dan air tanah, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim global, kajian daya dukung lingkungan, aplikasi revitalisasi bangunan air utama (termasuk dalam aplikasi ini adalah evaluasi keamanan bendungan) dan aplikasi daur ulang mutu air.

  2. Upaya pendayagunaan Sumber Daya Air yang berupa aplikasi :

    • Irigasi hemat air, yaitu meminimalisasikan kehilangan air di saluran dan ketelitian pemberian air irigasi.
    • Mengembangkan aplikasi piranti lunak untuk analisis potensi air dan alokasi air

  3. Upaya pengendalian daya rusak air berupa aplikasi :

    • Pengembangan Model Pengendalian Banjir di Daerah Aliran Sungai dan Banjir Perkotaan.
    • Sistem Peringatan Dini Banjir, Kekeringan, Longsor dan Aliran Debris (limpasan permukaan yang membawa partikel halus contohnya adalah banjir lahar).
    • Teknologi pengendalian pencemaran air.
KWARSA HEXAGON telah berpengalaman mengaplikasikan formulasi tersebut di atas dalam mengelola Sumber Daya Air di Indonesia dapat memberikan jasa layanan konsultansi berupa :
  1. Pengelolaan dan pengembangan Sumber Daya Air.
  2. Pengelolaan dan pengembangan Satuan Wilayah Sungai.
  3. Pengelolaan dan pengembangan Rawa, Danau, Situ-Situ dan Embung.
  4. Pengelolaan dan Pengembangan Irigasi.
  5. Analisa Neraca Air.
  6. Pengembangan Bendung dan Bendungan.
  7. Pengembangan Air Tanah, termasuk studi, penelitian, dan pengembangan potensi air tanah.
  8. Pengendalian Banjir.
  9. Pengendalian Sedimen.